Kamis, 06 Januari 2011

CONTEXT, CO-TEXT, SPEECH ACT DAN CONVERSATION

PRAGMATIK
Pragmatik adalah salah satu cabang dari linguistik yang membahas tentang bahasa sebagai alat komunikasi. Pragmatik membahas juga cabang linguistik yang lain seperti sintaksis yaitu ilmu yang mempelajari hubungan suatu kata dengan kata yang lain dalam suatu kalimat, dan semantik yaitu ilmu yang mempelajari makna suatu bahasa diluar konteks. Sedikit lebih tinggi dari semantik, pragmatik mempelajari bahasa dengan menggunakan konteks. Hal ini membuat tataran pragmatik lebih luas daripada tataran semantik.

Konteks
Berbicara tentang pragmatik, kita juga akan berbicara tentang konteks. Konteks adalah suatu pengetahuan yang berada diluar suatu teks. Dalam pragmatik terdapat tiga jenis konteks, yaitu:
1. Konteks situasi
Konteks situasi merupakan hal-hal yang dibagi antara penutur dan petutur melalui sesuatu yang ada dsekitar mereka. Sesuatu dsini dapat berupa gerak tubuh, menunjukan sesuatu yang ada disekitar mereka dan lain-lain.
2. Konteks pengetahuan dasar
Konteks pengetahuan dasar merupakan hal-hal yang dibagi antar penutur dan petutur tentang sesuatu yang mereka telah ketahui bersama. Konteks ini terbagi dua yaitu konteks budaya dan koteks interpersonal. Konteks budaya adalah pengetahuan umum yang diketahui oleh penutur dan petutur dan juga masyarakat yang berada dalam budaya yang sama dengan mereka. Contonhnya seperti iklim disuatu tempat. Sedangkan konteks interpersonal adalah pengetahuan yang hanya diketahui oleh penutur dan petutur seperti hal-hal pribadi.
3. Koteks
Koteks adalah pengetahuan yang didapat dari hal-hal yang telah penutur dan petutur dapat dari percakapan sebelumnya.

Koteks
Selanjutnya kita akan lebih jauh membahas tentang koteks. Koteks sangat erant hubunganya dengan kohesi. Kohesi merupakan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lain di dalam suatu teks. Ada dua jenis kohesi didalam koteks, yaitu kohesi tata bahasa dan kohesi makna.

Koteks tata bahasa merupakan hubungan hubungan antara suatu kata dengan kata yang lain seperti reference, subtitusi, dan elipsis. Reference merupakan penggantian kata dengan menggunakan kata lain, kata tersebut dapat berupa pronoun. Reference dapat dilakukan pada awal atau disebut juga anapora dan pada akhir atau katapora. Subtitusi merupakan, penggantian kata dengan menggunakan kata lain seperti one. Sedangkan elipsis adalah penghilangan kata. Kata yang dihilangkan merupakan kata yang telah diketahui sebelumnya dan dianggap tidak penting. Hal-hal diatas digunakan untuk mengganti kata yang sudah ada dengan kata lain atau menghilangkanya agar petutur tidak bosan.
Koteks makna merupakan hubungan antara makna suatu kata dengan kata yang lain seperti repetisi, superordinat, dan kata umum. Repetisi merupakan pengulangan kata. Pengulangan kata tersebut dilakukan untuk menekankan hal yang sedang dibicarakan. Superordinat adalah penggantian kata dengan menggunakan kata yang lebih umum seperti kata mawar diganti dengan kata bunga. Kata umum merupakan penggantian kata dengan menggunakan kata yang lebih umum dan cenderung menghilangkan sifat spesifik dari kata awal seperti menggantinya dengan kata things.

Tindak Tutur
Tindak tutur merupakan kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan bahasa untuk menyampaikan maksud dan menghasilkan efek.
Menurut Austin, tindak tutur terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Lokusi, yaitu apa yang diujarkan penutur dari kata-kata yang ia gunakan.
2. Ilokusi, yaitu apa maksud dari ujaran yang disampaikan oleh penutur, contohnya seperti mengundang, menanyakan sesuatu dan lain-lain.
3. Perlokusi, yaitu efek atau reaksi apa yang dilakukan petutur dari ujaran penutur.
Hal tersebut berbeda dengan teori dari Searle. Searle membagi tindak tutur menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Deklarasi, yaitu suatu ujaran yang menyatakan sesuatu yang mengubah dunia atau suatu keadaan.
2. Representatif, yaitu ujaran yang menginginkan petutur mempercayai apa yg diujarkan.
3. Comisif, yaitu ujaran yang menyatakan penutur akan melakukan apa di masa yang akan datang.
4. Direktif, yaitu ujaran yang menginginkan petutur melakukan sesuatu.
5. Ekspresif, yaitu ujaran yang menyatakan perasaan si penutur.
Teori-teori diatas harus mematuhi kondisi felisitas agar dapat dikatakan berhasil. Kondisi kondisi tersebut, yaitu:
1. Model Austin: Konteks dan peran partisipan harus diketahui oleh semua pihak, tindak tuturnya harus bisa diselesaikan seluruhnya, semua partisipan harus mempunyai maksud yang baik.
2. Model Searle: Kondisi umum untuk tindak tutur antara lain yaitu penutur harus mendengarkan dan mengerti akan ucapan-ucapan dan bahasa yang digunakan, serta penutur tidak boleh berpura-pura.
3. Model declaration dan directives: Penutur harus meyakini bahwa apa yang diucapkan harus benar-benar bisa dilaksanakan, penutur menuturkan ujaran berdasarkan minat petutur, serta tidak merasa terpaksa dalam untuk melakukan sesuatu.

Namun terkadang penutur menggunakan tindak tutur tidak langsung. Tindak tutur tidak langsung dalam hal ini adalah makna implisit. Penututr mengujarkan sesuatu yang bentuk dan maknanya tidak saling berkaitan.

Percakapan
Percakapan adalah suatu proses ujaran yang saling timbal balik atau bergantian yang dilakukan oleh penutur dan petutur, ujaran tersebut mempengaruhi ujaran berikutnya. Untuk menganalisis percakapan kita dapat menggunakan dua cara yaitu exchange structure dan analisis percakapan.
Exchange structure adalah suatu metode analisis percakapan dengan cara mengklasifikasi ujaran-ujaran menjadi initation, respone dan follow-up atau dikenal juga dengan IRF. Initation adalah ujaran yang mengandung informasi, perintah, ajakan atau lainya. Respone adalah ujaran yang dihasilkan dari initation seperti jawaban atau reaksi petutur. Follow-up adalah commentar dari respone seperti penerimaan atau evaluasi.
Selain exchange structure ada juga analisis percakapan. Analasis percakapan terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: giliran bicara, adjacency pairs, dan sequences.
Giliran bicara yaitu adalah suatu cara petutur untuk mengambil alih pembicaraan.
1. Taking the floor, yaitu mengambil alih pembicaraan cara petutur mengambil alih pembicaraan.
a. Interupsi, yaitu suatu cara pengambil alihan pembicaraan dengan memotong pembicaraan penutur. Hal ini terjadi karena petutur merasa pesan yang disampaikan oleh petutur sudah cukup.
b. Over-lap, sama seperti interupsi, namun dalam hal ini petutur merasa bahwa dia telah dapat memprediksi ujaran selanjutnya yang akan diujarkan penutur.
2. Holding the floor, yaitu cara penutur untuk mempertahankan apa yang sedang dibicarakanya.
3. Yielding the floor, yaitu cara penutur untuk memberikan giliran bicara kepada petutur.
Adjacency pairs, menyatakan bahwa setiap ujaran sudah memeiliki pasangan. Pasangan tersebut merupakan respon dari petutur. Respon tersebut terbagi menjadi dua, yaitu preferred respone (respon yang diinginkan oleh penutur) dan dispreferred respone (respon yang tidak diinginkan penutur).
Sequences, menyatakan bahwa ujaran terbagi atas presequence, insertion sequence dan opening dan closing sequence. Presequence adalah ujaran awal yang dikatakan sebelum memasuki inti dari percakapan. Insertion sequence adalah ujaran lain yang dimasukkan yang tidak berkaitan dengan inti dari percakapan. Opening dan closing sequence adalah ujaran yang dikatakan sebelum dan sesudah inti daro percakapan.

1 komentar:

  1. bagus sekali informasinya,,,,ada dipake bahan buat presentasi besok,,,makasi bos!

    BalasHapus