Rabu, 01 Desember 2010

PRINSIP KERJASAMA DAN TEORI RELEVANSI


Prinsip Kerjasama
Dalam percakapan, penutur dan petutur harus saling bekerjasama agar percakapan tersebut tetap berlangsung. Prinsip kerjasama terjadi ketika penutur dan petutur berbicara jujur, pembicaraan berada dalam topik yang sama, dan ujaranya tidak ambigu. Terdapat empat jenis maksim dalam prinsip kerjasama, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan, dan maksim cara.

I.1 Observing the Maxims
Observing the maxims adalah suatu kondisi dimana penutur dan petutur mematuhi aturan maksim.
1.         Maksim Kuantitas
Penutur dikatakan mematuhi maksim kuantitas apabila memberikan informasi yang dibutuhkan dengan tidak berlebihan atau kurang, contohnya “Well, to cut a long story short, she didn’t get home till two.”
2.         Maksim Kualitas
Maksim kualitas bearti penutur berbicara jujur dan sesuai dengan kenyataan, contohnya:
A         I’ll ring you tomorrow afternoon then.
B         Erm, I shall be there as far as I know, and in the meantime have a word with Mum and Dad if they’re free. Right, bye-bye then sweetheart.
A         Bye-bye, bye.
Dengan mengatakan “as far as I know” penutur terlindungi jika dia tidak berada ditempat ketika A menelpon. Dengan demikian B tidak bisa dikatakan berbohong.
3.         Maksim Hubungan
Dalam maksim hubungan, segala yang diucapkan harus memiliki relevansi dengan ujaran yang diucapkan sebelumnya, contohnya:
A         There’s somebody at the door
B         I’m in the bath.
4.         Maksim Cara
Seseorang dikatakan telah mengikuti aturan maksim cara bila ia berbicara ringkas dan efisien dan menghindari ketidak-jelasan dan ambiguitas, contohnya:
Thank you chairman. Jus – just to clarify one point. There is a meeting on the police committe on Monday and there is an item on their budget for the provision of their camera.

I.2 Flouting the Maxims
Ketika aturan maksim tidak dipatuhi demi menjaga citra lawan tutur, kondisi ini disebut flouting the maxims.
1.    Flouting quantity
Flouting quantity terjadi ketika penutur memberi informasi yang berlebihan atau tidak memberikan informasi yang cukup, contohnya:
A         Well, how do I look?
B         Your shoes are nice...
2.    Flouting quality
Floating quality terjadi ketika penutur tidak mengatakan ujaran yang sesuai dengan apa yang dia maksud. Ini juga dapat diungkapkan melalui majas. Penutur dapat membesar-besarkan maksud dari ujaranya dengan menggunakan majas hiperbola, contohny “I could eat a whole horse.”
                        Selain hiperbola, majas lain yang bisa digunakan adalah metafora, ironi dan banter.
3.    Flouting relation
Flouting relation terjadi ketika penutur berharap petutur dapat membayangkan ujaran yang tidak diujarkan dan menyambungkanya dengan ujaran yang diujarkan, contohnya:
A         So what do you think of Mark?
B         His flatmate’s a wonderful cook.
4.    Flouting manner
Flouting manner terjadi ketika petutur menutupi sesuatu dengan mengatakanya tidak jelas atau dengan ambigu. Hal ini terjadi agar orang ketiga tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Contohnya:
A         Where are you off to?
B          I was thinking of going out to get some of that funny white stuff for sombody.
A         OK, but don’t be long – dinner’s nearly ready.


I.3 Violating the Maxims
Menurut Cutting (2002:40), apabila seseorang melanggar maksim dengan tujuan agar lawan bicaranya tidak dapat memahami apa yang diutarakan, artinya ia telah melakukan violating the maxims. Penutur dengan sengaja tidak mengungkapkan yang sebenarnya atau sengaja menutupi kebenaran. Penutur, biasanya, memang tidak mengharapkan lawan bicaranya mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
  1. Violates the maxim of quantity
Seseorang dikatakan violates the maxim of quantity jika ia tidak memberikan informasi yang mencukupi tentang suatu topik perbincangan. Contohnya:
A  Does your dog bite?
B  No.
A (Bends down to stroke it and gets bitten) Ow! You said your dog doesn’t bite!
B That isn’t my dog.
  1. Violated the maxim of quality
Apabila seorang penutur berbicara dengan tidak jujur dan memberikan informasi yang salah, artinya orang tersebut telah violated the maxim of quality. Contohnya:
A  How much did that new dress cost, darling?
B  Thirty-five pounds
B bisa saja berbohong dengan mengatakan harga baju tersebut adalah 35 pounds.
  1. Violated the maxim of relation
Penutur melakukan violated the maxim of relation, ketika ia mengalihkan perhatihan petutur dan segera mengganti topic pembicaraan.
A  How much did that new dress cost, darling?
B  I know, let’s go out tonight. Now, where would you like to go?

  1. Violated the maxim of manner
penutur melakukan violated the maxim of manner, terjadi bila penutur mengatakan hal lain yang tidak ingin diketahui penutur. Contohnya:
A  What would the other people say?
B  Ah well I don’t know. I wouldn’t like to repeat it because I don’t really believe half of what they are saying. They just get a fixed thing into their mind.
  
Relevance Theory

Menurut Spereber dan Wilson, implikatur percakapan dengan mudah dimengerti ole petutur dengan memilih bagian-bagian yang berhubungan dengan konteks, dan menyadari apa yang dikatakan oleh penutur berhubungan dengan percakapan yang sedang terjadi.
Tingkat relevansi ditentukan oleh efek kontekstual (contextual effects) dan usaha pengolahan (processing effort). Efek kontekstual yaitu menambahkan informasi baru, menguatkan atau menyanggah sebuah asumsi, atau melemahkan informasi terdahulu. Lebih besar efek kontekstualnya maka lebih kuat hubungan ujaran dengan kenyataan. Hal ini berbanding terbalik dengan usaha pengolahan. Lebih sedikit usaha pengolahan yang dilakukan maka lebih kuat hubungan ujaranya dengan kenyataan. Contohnya:



A         Well there’s a shuttle service sixty pounds one way. When do you want to go?
B         At the weekend.
A         What weekend?
B          Next weekend. How does it work? You just turn up for the shuttle service?
A         That might be cheaper. Then that’s fifty.


Resouces:
Cutting, Joan. (2002) Pragmatics and Discourse,Routledge.
Yule, George. (1996) Pragmatics, Oxford: Oxford University Press.
Internet:
http://www.scribd.com/doc/14548085/pragmatik diakses pada 30 november 2010




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar